Apa itu Bus Factor dalam sebuah tech startup?

busfactor1

Ilustrasi apa itu bus factor

Pernah dengar Bus Factor? atau developer di tabrak bus? 🙁

Yang dimaksud Bus Factor disini adalah sebuah nilai dimana semakin sedikit orang-orang, staff atau developer yang mengerti akan bagian terpenting dari perusahaan (teknologi) anda, produk anda maka artinya memiliki Bus Factor tinggi.

Itu bukan ungkapan main-main lho, yang namanya Bus Factor itu ada dalam setiap organisasi, perusahaan dan terlebih lagi dalam startup bidang teknologi baik kita sadari ataupun tidak.

Semakin tinggi Bus Factor di perusahaan anda, artinya anda hanya menggantungkan denyut nadi perusahaan kepada segelintir orang, staff atau developer (kalau di perusahaan teknologi).

Contoh Kasus

Saya kasi contoh, anda membuat sebuah startup teknologi dengan seorang partner yang memang sangat kompeten di teknologi tersebut dan dia menjadi CTO, seiring berjalannya waktu startup anda berkembang dan mulai merekrut developer-developer baru. Namun sayangnya, tingkat pemerataan pengetahuan tentang teknologi yang anda pakai tidak berimbang antara CTO anda developer senior dan para developer junior.

Selama ini para developer anda hanya mengerjakan hal-hal kecil, sedangkan semua hal-hal penting hanya dikuasai oleh CTO anda atau developer senior yang jumlahnya 1 atau 2. Dan anda anggap itu semua biasa, tapi apa yang terjadi ketika si CTO tersebut mengundurkan diri, atau tiba-tiba sakit, atau tiba-tiba benar-benar di tabrak bus?

Bagaimana dengan perusahaan anda? Siapa yang akan melakukkan deploy? siapa yang akan mengarahkan developer anda untuk melanjutkan produk? dijamin pusing tujuh keliling 🙂

Menghindari Bus Factor yang tinggi

Begitu anda merasa Bus Factor di startup yang anda bangun sudah tinggi secepatnya bisa melakukkan langkah-langkah berikut.

Perbanyak dokumentasi, sebisa mungkin dokumentasikan setiap proses, teknologi, cara-cara development yang membuat produk anda tetap berjalan. Dengan dokumentasi setidaknya ada mempunyai pegangan bagaimana produk akan terus berjalan meskipun orang/staff yang selama ini anda beri tanggung jawab lebih itu tidak lagi bersama anda.

Perbanyak Knowledge Sharing antar developer, berbagi oleh developer-developer yang sudah mempunyai pengalaman lebih ke developer-developer baru sangatlah penting. Disamping ini menjadi reward lebih bekerja di startup anda, ini juga akan menjadikan team anda lebih solid dan merasa percaya diri untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi.

Mendistribusikan beban pekerjaan secara merata, memberikan task-task yang sulit hanya kepada orang tertentu saja atau melimpahkan tugas-tugas yang ringan kepada yang lainnya juga beresiko menaikkan Bus Factor. Jadi ada baiknya setiap orang/staff merasakan tingkat tanggung jawab yang sama di dalam pekerjaan, setiap orang merasakan bahwa yang mereka kerjakan itu sama pentingnya dengan yang lainnya kerjakan.

Jadi intinya apabila beberapa poin diatas tersebut bisa membudaya di lingkungan kerja anda, maka dengan sendirinya Bus Factor akan berkurang dan anda merasa lebih aman dan nyaman menjalankan bisnis. Tidak ada yang lebih nyaman daripada mempunyai team yang kokoh dibelakang anda.

Demikian sedikit pengalaman yang saya bisa bagi dan pelajari selama bekerja di sebuah startup berbasis teknologi, terbiasa bekerja sendiri dari mulai freelancing sejak 2009 yang lalu memaksa saya memiliki mindset saya harus jadi superman dan bisa segalanya. Namun pada kenyataannya, bekerja di sebuah startup tidaklah bisa seperti itu, semua mempunyai bagian penting masing-masing, bekerja sama saling mendukung untuk kesuksesan sebuah produk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *